Monday, March 2, 2026

Harga Minyak Melonjak Tinggi 10 Persen Imbas Perang Iran

 Ilustrasi minyak mentah.

Ilustrasi minyak mentah. (CNBC)

London, Beritasatu.com – Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 10% ke kisaran US$ 80 per barel dalam perdagangan luar bursa pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat.

Para analis memperkirakan harga minyak berpotensi menembus US$ 100 per barel setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu perang baru di Timur Tengah.

Patokan minyak dunia tersebut sebenarnya sudah menguat sepanjang tahun ini. Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), Brent berada di level US$ 73 per barel, tertinggi sejak Juli, didorong kekhawatiran pasar terhadap potensi serangan yang akhirnya terjadi sehari kemudian.

Direktur energi dan pengilangan ICIS Ajay Parmar mengatakan faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak adalah penutupan Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

“Aksi militer memang mendukung kenaikan harga minyak. Namun, penutupan jalur pelayaran strategis tersebut menjadi faktor paling menentukan bagi pasokan energi global,” kata dia dilansir dari Reuters.

Sumber perdagangan menyebut sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan rumah dagang menghentikan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta gas alam cair melalui Selat Hormuz.

Langkah ini diambil setelah Teheran memperingatkan kapal agar tidak melintas di perairan tersebut. Lebih dari 20% pasokan minyak dunia dikirim melalui jalur tersebut.

Parmar memperkirakan harga minyak saat pasar dibuka kembali dapat mendekati US$ 100 per barel, bahkan berpotensi melampaui level itu jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama.

Sejumlah pemimpin negara Timur Tengah juga telah memperingatkan Washington bahwa perang dengan Iran dapat mendorong harga minyak melampaui US$ 100 per barel. Analis RBC Capital Helima Croft menyampaikan hal tersebut dalam kajiannya.

Sementara itu, analis Rabobank memiliki pandangan sedikit lebih moderat dengan memperkirakan harga minyak tetap bertahan di atas US$ 90 per barel dalam waktu dekat.

Pada sisi lain, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu menyepakati peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April. Tambahan tersebut tergolong kecil karena hanya kurang dari 0,2% dari total permintaan minyak global.

No comments:

Post a Comment