Tuesday, June 2, 2026

Harga Emas Turun di Tengah Konflik Iran dan Prospek Suku Bunga AS

 Ilustrasi emas batangan

Ilustrasi emas batangan (AP Photo/Jae C. Hong)

Jakarta, Beritasatu.com - Harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin (1/6/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dalam waktu lebih lama.

Mengutip CNBC, Selasa (2/6/2026), harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.517,37 per ons troi setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada Jumat lalu. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS terkoreksi 1,9% dan ditutup pada level US$ 4.506,30 per ons troi.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas pada Selasa (2/6/2026) pagi berada di level US$ 4.491,15, turun 6,17 poin atau 0,14% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Penguatan dolar AS turut menekan pergerakan logam mulia karena membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

“Ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama kemungkinan akan terus menekan harga emas, kecuali jika imbal hasil obligasi berhenti naik dan suku bunga mulai stabil atau cenderung menurun,” kata analis pasar American Gold Exchange  Jim Wyckoff.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat. Iran menyatakan telah melancarkan serangan terhadap pangkalan udara AS sebagai respons atas serangan Washington terhadap target militer Iran pada akhir pekan lalu. Pada saat yang sama, media Iran melaporkan bahwa tim negosiasi Teheran menghentikan pertukaran pesan dengan AS melalui mediator.

Kenaikan harga minyak akibat konflik tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap inflasi global. Kondisi ini berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga guna mengendalikan tekanan harga.

Berdasarkan alat FedWatch CME Group, pelaku pasar memperkirakan terdapat peluang sekitar 56% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga AS hingga akhir tahun.

Meski selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tarik emas biasanya berkurang saat suku bunga tinggi karena instrumen tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Investor kini menantikan sejumlah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini, termasuk berbagai pernyataan dari pejabat Federal Reserve yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

“Setelah situasi geopolitik stabil dan guncangan energi mulai mereda, kami memperkirakan investor akan kembali fokus pada tema-tema struktural yang telah mendukung pasar bullish emas dalam beberapa tahun terakhir,” ujar analis Saxo Bank Ole Hansen.

Bank sentral diperkirakan masih akan menjadi pembeli bersih emas dalam 12 bulan ke depan, sehingga berpotensi menopang harga logam mulia tersebut dalam jangka panjang.