Thursday, August 13, 2026

Singapore Airlines Rugi Rp 13,95 Triliun gara-gara Air India

 Ilustrasi Singapore Airlines.

Ilustrasi Singapore Airlines. (Antara)

Singapura, Beritasatu.com – Singapore Airlines mencatat kerugian sekitar S$ 1 miliar (Rp 13,95 triliun) dari investasinya di Air India, kurang dari dua tahun setelah mengambil 25% saham maskapai India tersebut.

Investasi pada November 2024 itu dinilai sejumlah analis tidak tepat waktu. Air India menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kecelakaan pesawat, krisis bahan bakar jet, penutupan wilayah udara Pakistan, pelemahan rupe, hingga gangguan rantai pasok global.

Investasi Singapore Airlines di Air India berawal dari kerja sama dengan Tata Sons melalui pendirian Vistara pada 2013. Ketika Tata menjajaki akuisisi Air India dari pemerintah India pada 2021, Singapore Airlines turut memberikan masukan dalam proses privatisasi.

Singapore Airlines melihat pertumbuhan pasar penerbangan India sebagai peluang besar meski Air India membutuhkan investasi besar untuk berbenah. Dalam kesepakatan tersebut, Vistara digabungkan dengan Air India. Singapore Airlines menyuntikkan modal tambahan S$ 822 juta (Rp 11,47 triliun) dan memperoleh 25% saham, sedangkan sisanya dimiliki Tata.

ADVERTISEMENT

Transaksi itu sempat menghasilkan keuntungan akuntansi satu kali sebesar S$ 1,1 miliar (Rp 15,35 triliun). Namun, Air India yang sebelumnya mengalami pembengkakan organisasi, memiliki armada tua, dan menghadapi masalah keandalan operasional membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.

Lima bulan setelah kesepakatan, Singapore Airlines kembali menyuntikkan S$ 167 juta (Rp 2,33 triliun) sehingga total modal yang ditanamkan mencapai S$ 989 juta (Rp 13,80 triliun).

Tekanan semakin besar setelah pesawat Air India nomor penerbangan 171 jatuh sesaat setelah lepas landas dari Bandara Ahmedabad. Kecelakaan tersebut menewaskan 260 orang, termasuk 241 dari 242 penumpang.

Setelah kecelakaan, Air India mengurangi jadwal penerbangan untuk memeriksa armada Boeing 787 dan meningkatkan pemeriksaan sebelum penerbangan. Maskapai itu juga mengalami kerugian sekitar US$ 600 juta (Rp 10,5 triliun) akibat penutupan wilayah udara Pakistan bagi maskapai India di tengah konflik kedua negara.

Pada saat yang sama, gangguan rantai pasok menunda pembaruan armada dan peningkatan kabin, sedangkan konflik Timur Tengah memicu krisis bahan bakar jet global. Pelemahan rupe terhadap dolar AS turut menambah beban karena sebagian besar biaya Air India menggunakan mata uang AS.

Ketua Tata Sons N Chandrasekaran sebelumnya menyebut rangkaian persoalan tersebut sebagai perfect storm dan memperkirakan transformasi Air India dapat memakan waktu hingga satu dekade. Tata kemudian menunjuk Tewolde Gebremariam, mantan CEO Ethiopian Airlines, sebagai CEO Air India berikutnya.

Berbagai tekanan tersebut membuat Singapore Airlines mencatat kerugian S$ 945 juta (Rp 13,19 triliun) atau US$ 738 juta dari Air India dalam 12 bulan hingga akhir Maret 2026. Pada tiga bulan berikutnya, kerugian meningkat S$ 41 juta (Rp 572 miliar) dibandingkan kuartal sebelumnya, meski Singapore Airlines tidak mengungkapkan total nilainya.

Wednesday, August 12, 2026

Kemenhub Awasi Pelanggaran Kendaraan ODOL Pakai ETLE Hub

 Kemenhub meluncurkan ETLE Hub untuk memperkuat pengawasan kendaraan angkutan barang sebagai bagian dari upaya pemerintah mewujudkan zero ODOL pada 2027, Senin, 10 Agustus 2026.

Kemenhub meluncurkan ETLE Hub untuk memperkuat pengawasan kendaraan angkutan barang sebagai bagian dari upaya pemerintah mewujudkan zero ODOL pada 2027, Senin, 10 Agustus 2026. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meluncurkan sistem penegakan hukum melalui alat bukti rekaman elektronik pelanggaran lebih dimensi dan lebih muatan (ETLE Hub) untuk memperkuat pengawasan kendaraan angkutan barang. Sistem ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan zero over dimension over loading (ODOL) pada 2027.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan, kendaraan yang melanggar ketentuan dimensi dan muatan dapat meningkatkan risiko kecelakaan serta mempercepat kerusakan infrastruktur transportasi.

“Kendaraan yang melanggar ketentuan dimensi dan muatan, memperbesar risiko kecelakaan. Mempercepat kerusakan jalan dan jembatan, mengganggu ketertiban lalu lintas, serta menimbulkan kerugian yang pada akhirnya harus ditanggung bersama,” kata Menhub Dudy saat peluncuran ETLE Hub, di Jakarta. Senin (10/8/2026).

Dudy mengatakan, penanganan kendaraan ODOL perlu dilakukan secara konsisten dan menyeluruh. Pengawasan di lapangan tetap diperlukan, tetapi pertumbuhan jumlah kendaraan dan luasnya jaringan jalan membutuhkan dukungan teknologi serta integrasi data.

ADVERTISEMENT

“Karena itu, penanganan overdimension overloading harus dilakukan secara konsisten dan menyeluruh. Pengawasan di lapangan tetap diperlukan. Namun, jumlah kendaraan yang terus bertambah dan luasnya jaringan jalan menuntut dukungan teknologi serta integrasi data yang semakin baik,” tambahnya.

ETLE Hub dikembangkan sebagai sistem pengawasan dan penegakan hukum kendaraan angkutan barang berbasis bukti elektronik. Sistem ini mendukung pelaksanaan rencana aksi nasional (RAN) penanganan kendaraan ODOL yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga.

Dalam penerapannya, ETLE Hub mengintegrasikan data kendaraan dengan bukti lulus uji elektronik (BLUE), serta hasil pemantauan menggunakan teknologi automatic number plate recognition (ANPR), radio frequency identification (RFID), dan weigh in motion (WIM).

Integrasi tersebut memungkinkan kendaraan yang terindikasi melakukan pelanggaran diidentifikasi dengan lebih akurat. Data yang terkumpul juga dapat menjadi bukti elektronik untuk mendukung proses penegakan hukum.

Saat ini, ETLE Hub  telah memiliki 51 titik pantau pengawasan. Sebanyak 26 titik berada di unit pelaksana penimbangan kendaraan bermotor (UPPKB), sedangkan 25 titik lainnya berada di sejumlah ruas jalan tol.

Cakupan pengawasan tersebut akan terus diperluas. Berdasarkan rencana implementasi hingga 2029, pemerintah akan menambahkan 63 titik pantau kamera ANPR di UPPKB serta 15 titik pantau dengan teknologi WIM.