
Jakarta, Beritasatu.com – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit sebesar 8%-10% pada 2026. Target tersebut dinilai masih relevan di tengah tren industri perumahan yang mulai melambat.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan perseroan tidak akan merevisi target pertumbuhan kredit meski realisasi hingga semester I 2026 telah mencapai 11,2% secara tahunan atau year on year (yoy).
“Jadi kita enggak revisi. Ini masih sama dengan rencana bisnis bank (RBB) awal. Tetapi memang realisasinya melebihi dari rencana. Terutama sekali adanya akuisisi portofolio SMBC,” ujar Nixon dalam Pubex Live 2026, Kamis (10/9/2026).
Nixon menjelaskan, capaian kredit pada semester I 2026 antara lain didorong akuisisi portofolio kredit pensiun dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN). Oleh karena itu, perseroan kembali menggunakan proyeksi pertumbuhan kredit sesuai target awal yang ditetapkan dalam RBB.
“Dan kita sebenarnya mengembalikan ke rencana kerja perusahaan awal saja 8%-10%. Ya kalau pun lebih mungkin 10,1%-10,2%. Jadi enggak akan lebih,” tuturnya.
Nixon mengatakan sikap konservatif tersebut juga mempertimbangkan kondisi industri perumahan yang masih menghadapi perlambatan. BTN melihat pembangunan maupun pembelian rumah, terutama pada segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), masih bergerak lebih lambat.
“Kalau kita lihat pertumbuhan KPR, terutama yang masyarakat berpenghasilan rendah, memang lebih lambat pembangunan rumah maupun pembelian rumah. Jadi kita enggak berani membuat target melebihi tren yang terjadi di industri perumahan,” lanjut Nixon.
Perlambatan tercermin dari outstanding KPR BTN yang hingga Juni 2026 tumbuh 5,8% secara tahunan menjadi Rp 309,94 triliun, melambat dari 7,4% pada periode yang sama tahun lalu. Perlambatan terutama terjadi pada KPR nonsubsidi yang hanya tumbuh 2% dari sebelumnya 8,8%. Sementara itu, KPR subsidi justru menguat dengan pertumbuhan 8,1% dari 6,5%.
Menurut Nixon, target konservatif tersebut juga sejalan dengan langkah perseroan menjaga kualitas kredit di tengah kondisi industri yang melambat. Untuk itu, BTN akan menyalurkan kredit secara lebih selektif, terutama pada beberapa segmen perkreditan.
Selain dari sisi permintaan, sektor perumahan juga masih menghadapi kendala dari sisi pasokan. Nixon menyebut pembangunan rumah di sejumlah daerah, khususnya Jawa Barat, masih terhambat persoalan perizinan.
“Apalagi sisi pasokannya juga masih pelan. Terutama di daerah Jawa Barat. Jadi ada beberapa persoalan perizinan dan sebagainya. Itu yang menyebabkan kami juga tetap memasang angka 8%-10%,” tuturnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, BTN tetap mempertahankan guidance 2026 secara konservatif. Selain pertumbuhan kredit 8%-10%, perseroan menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7%-9%, cost of credit (CoC) sebesar 1%-1,2%, serta rasio non-performing loan (NPL) gross di bawah 3%.
Sementara itu, hingga semester I 2026, pertumbuhan DPK BTN tercatat sebesar 6,6%. Rasio CoC berada di level 0,7%, sedangkan NPL gross tercatat 3%.
Sebagai bank spesialis perumahan, BTN Group saat ini menguasai pangsa pasar KPR nasional lebih dari 38% di seluruh segmen. Adapun pada segmen KPR subsidi, pangsa pasar BTN mencapai sekitar 80%-81%.
No comments:
Post a Comment