Monday, August 10, 2026

Eksekusi Hotel Arianz Ricuh, Ahli Waris Bentangkan Foto Prabowo

 Pemilik dan ahli waris membentangkan foto Prabowo Subianto menolak eksekusi Hotel Arianz Mataram, Kota Mataram, Senin, 10 Agustus 2026.

Pemilik dan ahli waris membentangkan foto Prabowo Subianto menolak eksekusi Hotel Arianz Mataram, Kota Mataram, Senin, 10 Agustus 2026. (Beritasatu.com/Muhammad Awaludin)

Mataram, Beritasatu.com – Eksekusi Hotel Arianz Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) diwarnai kericuhan, Senin (10/8/2026). Pemilik dan sejumlah ahli waris berupaya menghalangi tim juru sita Pengadilan Negeri Mataram menyita aset hotel tersebut. 

Ketegangan terjadi saat petugas hendak memasuki hotel untuk mengosongkan bangunan dan mengeluarkan barang-barang di dalamnya. Situasi semakin memanas saat ahli waris membentangkan spanduk bergambar Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk permintaan perhatian dan pertolongan atas persoalan hukum yang mereka hadapi.

Tim juru sita yang sempat menghadapi perlawanan kemudian mendapat dukungan petugas dari tim pemenang lelang Mataram. Setelah pintu masuk hotel berhasil dibuka paksa, proses pengosongan dilanjutkan dengan mengeluarkan sejumlah barang dari dalam hotel dan memasukkannya ke truk untuk diangkut.

Panitera Pengadilan Negeri Mataram Kelas IA, Anak Agung Nyoman Diksa mengatakan eksekusi dilakukan berdasarkan proses lelang atas aset yang sebelumnya menjadi jaminan kredit bank.

ADVERTISEMENT

“Karena tidak bisa bayar utang, maka bank BNI mengajukan lelang ke KPKNL Mataram terhadap objek ini sebagai jaminan hutang,” kata Nyoman.

Eksekusi Hotel Arianz Mataram, Kota Mataram diwarnai kericuhan, Senin, 10 Agustus 2026. - (Beritasatu.com/Muhammad Awaludin)
Eksekusi Hotel Arianz Mataram, Kota Mataram diwarnai kericuhan, Senin, 10 Agustus 2026. - (Beritasatu.com/Muhammad Awaludin)

Menurut dia, objek tersebut kemudian dimenangkan PT Prima Hotel dalam proses lelang. Keluarga sebelumnya mengajukan gugatan dan bantahan terhadap proses tersebut. Namun, Nyoman menegaskan upaya hukum yang diajukan tidak secara otomatis menghentikan pelaksanaan eksekusi.

“Ada gugatan. Namun gugatan tidak menangguhkan eksekusi. Berlawanan ada bantahan, tidak menangguhkan eksekusi,” ujarnya.

Kuasa hukum Hotel Arianz, Sofyan Dwi Rizky menyatakan keluarga mempersoalkan status tanah dan bangunan yang menurutnya merupakan aset pribadi almarhum Gede Angke, bukan aset perusahaan pengelola hotel.

Sofyan menjelaskan, pengelolaan hotel bermula dari kerja sama operasional pada 2017. Saat itu, hotel yang sebelumnya memiliki 36 kamar kemudian dikembangkan menjadi 96 kamar.

Pembiayaan pengembangan tersebut kemudian berkaitan dengan fasilitas kredit perbankan. Persoalan muncul setelah salah satu pengurus perusahaan mengundurkan diri dan kredit mengalami kemacetan pada 2024.

Menurut Sofyan, keluarga menilai tanah dan bangunan hotel tidak semestinya diperlakukan sebagai aset perusahaan karena kepemilikannya berada pada almarhum Gede Angke.

Gede Angke meninggal dunia pada Januari 2025. Sofyan juga mempersoalkan proses pemberitahuan terkait kredit dan lelang kepada ahli waris.

Ia mengatakan, sehari sebelum lelang, salah satu ahli waris berupaya menyelesaikan kewajiban perbankan untuk mempertahankan aset keluarga. Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak diterima bank karena diminta melunasi kewajiban secara penuh.

“Yang kami sayangkan, proses peradilan masih berlangsung, tetapi eksekusi tetap dilakukan,” kata Sofyan.

Keluarga saat ini disebut masih menempuh sejumlah upaya hukum, termasuk gugatan pihak ketiga dan perlawanan. Sofyan mengeklaim perkara tersebut telah berjalan berbulan-bulan di pengadilan.

Meski terjadi penolakan di lokasi, proses eksekusi akhirnya tetap berlangsung. Barang-barang dari dalam Hotel Arianz dikeluarkan secara bertahap dan diangkut menggunakan truk.

Peristiwa ini memperlihatkan dua posisi hukum yang berseberangan. Pengadilan menjalankan eksekusi berdasarkan hasil lelang yang dinyatakan tetap dapat dilaksanakan, sementara keluarga pemilik aset masih mempertahankan haknya melalui jalur perlawanan hukum.

Friday, August 7, 2026

IHSG Hari Ini Naik 0,39 Persen, Sektor Energi Pimpin Penguatan

 Ilustrasi IHSG.

Ilustrasi IHSG. (Beritasatu Photo/David Gita Roza)

Jakarta, Beritasatu.com - Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (7/8/2026) dan hingga pukul 09.16 WIB naik 0,39% atau bertambah 24,632 poin ke level 6.368,344. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.377,620 dan terendah 6.347,429 setelah dibuka di posisi 6.352,376.

Aktivitas perdagangan mencatat volume 6,781 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,245 triliun dari 367.593 kali transaksi. Sebanyak 265 saham menguat, 233 saham melemah, dan 208 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 11.160,534 triliun.

Dari 11 indeks sektoral, mayoritas bergerak di zona hijau. Sektor energi memimpin penguatan sebesar 1,09%, diikuti transportasi 0,65%, infrastruktur 0,75%, properti 0,35%, teknologi 0,35%, barang konsumen primer 0,12%, bahan baku 0,06%, dan keuangan 0,01%.

Sementara itu, sektor perindustrian terkoreksi 0,25%, barang konsumen nonprimer turun 0,55%, serta kesehatan melemah 0,05%.

ADVERTISEMENT

Penguatan juga terjadi pada sejumlah indeks utama. Indeks LQ45 naik 0,51%, Jakarta Islamic Index (JII) menguat 0,57%, IDX30 bertambah 0,55%, dan Investor33 meningkat 0,46%.

Pada jajaran top gainers, PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) memimpin dengan kenaikan 25,00%, disusul PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk (PDES) 21,31%, PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS) 16,22%, PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) 13,21%, serta PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) 11,94%.

Adapun top losers ditempati PT Tunas Alfin Tbk (TALF) yang turun 14,63%, diikuti PT Bach Multi Global Tbk (BACH) 11,11%, PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) 8,55%, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) 7,22%, dan PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) 5,60%.

Wednesday, August 5, 2026

Negara Berpenduduk 12.000 Jiwa Ini Resmi Ganti Nama, Simak Sejarahnya

 Ilustrasi Nauru atau Republik Naoero.

Ilustrasi Nauru atau Republik Naoero. (Dok/Aroundtravels)

Jakarta, Beritasatu.com - Nauru resmi mengakhiri penggunaan nama yang telah melekat selama berabad-abad. Negara kepulauan kecil di Samudra Pasifik itu kini secara resmi menggunakan nama Republik Naoero, sebagai bagian dari langkah dekolonisasi untuk menghidupkan kembali identitas tradisional masyarakatnya.

Keputusan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan negara berpenduduk sekitar 12.000 jiwa itu. Pergantian nama bukan sekadar perubahan administratif, melainkan simbol untuk meninggalkan warisan kolonial yang telah membentuk sejarah panjang pulau kecil tersebut.

Gandeng Oman, Iran Tepis Klaim Trump Soal Perundingan

Sejarah Panjang Kolonialisme di Nauru

Asal-usul penduduk pertama pulau ini belum diketahui secara pasti. Laporan Britannica menyebut masyarakat awal Nauru hidup dalam isolasi cukup lama sehingga memiliki bahasa asli yang khas.

Saat pelaut Eropa pertama kali tiba pada akhir abad ke-18, masyarakatnya terbagi ke dalam 12 kelompok kekerabatan matrilineal yang masing-masing dipimpin seorang kepala suku.

Kontak intensif dengan bangsa Eropa baru berlangsung pada 1830-an ketika industri perburuan paus mulai berkembang di Mikronesia timur. Pulau ini kemudian menjadi tempat persinggahan kapal-kapal yang mencari persediaan makanan dan air.

Kedatangan para pemukim Eropa membawa perubahan besar. Alkohol, senjata api, dan penyakit asing masuk ke pulau tersebut sehingga memicu konflik antardistrik yang semakin meluas pada dekade 1880-an.

Situasi itu mendorong Kekaisaran Jerman memasukkan Nauru ke dalam Protektorat Kepulauan Marshall pada 1888. Pemerintahan Jerman bersama para misionaris kemudian mengakhiri konflik bersenjata yang terjadi di pulau tersebut.

Sejarah Nauru terus berubah mengikuti dinamika politik dunia. Pada 1906, Pacific Phosphate Company asal Inggris mencapai kesepakatan dengan pemerintah kolonial Jerman untuk menambang cadangan fosfat yang sangat melimpah di pulau itu. Operasi penambangan dimulai setahun kemudian.

Ketika Perang Dunia I pecah, Australia mengambil alih wilayah tersebut dari Jerman. Mulai 1920, Nauru berstatus wilayah mandat Liga Bangsa-Bangsa dengan Australia, Inggris, dan Selandia Baru sebagai otoritas pengelola, meski administrasi sehari-hari tetap dijalankan Australia.

Perang Dunia II kembali mengubah perjalanan pulau kecil ini. Jepang menduduki Nauru pada Agustus 1942. Sekitar 1.200 warga dipindahkan ke Truk, yang kini bernama Chuuk, untuk dijadikan pekerja paksa di instalasi militer Jepang.

Pulau itu juga menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat selama dua tahun. Setelah Jepang menyerah, Australia kembali mengambil alih wilayah tersebut pada September 1945. Sebanyak 737 warga Nauru akhirnya dipulangkan pada 31 Januari 1946.

Pada 1947, Nauru menjadi wilayah perwalian Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan pengaturan yang hampir sama seperti sebelumnya. Perjalanan menuju pemerintahan sendiri akhirnya mencapai puncaknya ketika perjanjian kemerdekaan disepakati pada Oktober 1967.

Tanggal 31 Januari 1968, yang bertepatan dengan peringatan kepulangan warga dari Truk, dipilih sebagai Hari Kemerdekaan Republik Nauru.

Fosfat Membawa Kemakmuran Sekaligus Krisis

Cadangan fosfat menjadi aset paling berharga yang pernah dimiliki negara ini. Hampir seluruh bagian pulau mengandung endapan fosfat alami berkualitas tinggi yang sangat dibutuhkan industri pertanian dunia.

Setelah merdeka, pemerintah menasionalisasi industri fosfat. Pendapatan dari sektor tersebut sempat menjadikan Nauru sebagai salah satu negara terkaya di kawasan Mikronesia.

Namun, eksploitasi yang berlangsung dalam skala sangat besar membuat cadangan fosfat cepat menipis. Ketika sumber daya itu habis, ekonomi negara ikut mengalami kemerosotan.

Sebagian besar investasi hasil tambang juga mengalami kerugian akibat investasi berisiko dan kasus penipuan sehingga kondisi keuangan negara sempat berada di ambang kebangkrutan. Penemuan cadangan fosfat sekunder pada awal abad ke-21 memang sedikit membantu memperbaiki situasi, tetapi pemerintah tetap harus menerapkan langkah penghematan.

Warisan eksploitasi fosfat masih membekas di hampir seluruh wilayah negara tersebut. Lebih dari separuh daratan mengalami kerusakan akibat tambang terbuka.

Bagian tengah pulau yang dikenal sebagai Topside berubah menjadi kawasan tandus dengan lanskap berbatu yang kerap disamakan dengan permukaan bulan. Gundukan karst tajam mendominasi kawasan itu, sementara kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan vegetasi hampir hilang.

Kerusakan lingkungan tersebut menyebabkan sebagian besar flora dan fauna lokal lenyap. Akibatnya, masyarakat kini sangat bergantung pada pasokan makanan impor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.S Bakal Tarik Biaya Selat Hormuz

Pergantian nama menjadi Republik Naoero menjadi simbol perjalanan baru negara kecil di Samudra Pasifik itu. Pemerintah berharap identitas lama yang berakar pada budaya masyarakat dapat menjadi pengingat untuk belajar dari sejarah kolonial, eksploitasi sumber daya alam, dan berbagai tantangan yang pernah dihadapi.