
Jakarta, Beritasatu.com – Di tengah klaim pemerintah bahwa stok beras nasional berada pada level aman, petani di sejumlah daerah justru mulai berhadapan dengan sawah yang mengering. El Nino membuat air semakin sulit didapat, tanaman terancam gagal panen, sementara sebagian petani bahkan harus membeli beras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Emah (47), petani di Kampung Suminta, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten, mulai khawatir melihat sawahnya yang mengering. Ancaman gagal panen akibat kemarau panjang sudah di depan mata. Stok beras di rumahnya pun telah habis.
“Sudah beberapa minggu ini saya mulai membeli beras, sudah enggak ada stok,” kata Emah kepada Beritasatu.com pekan lalu.
Emah hanya menyimpan beras dalam jumlah terbatas karena hasil panen beberapa bulan lalu tidak memuaskan. Serangan hama dan kekeringan membuat produksi gabah dari lahannya anjlok. Dalam beberapa bulan, stok beras yang disimpan untuk kebutuhan keluarga pun ludes.

Kini Emah harus mengeluarkan uang untuk membeli beras. Persoalannya, harga beras dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya terus menjadi beban, sementara pendapatan hariannya tidak menentu.
“Bingung, mana pengeluaran banyak, harga-harga mahal. Saya kewalahan membagi uang untuk pengeluaran,” ujar Emah.
Emah membeli beras dengan harga sekitar Rp345.000 hingga Rp360.000 per kemasan 25 kilogram, bergantung pada kualitas. Bagi petani dengan pendapatan tidak tetap, pengeluaran tersebut bukan perkara kecil.
Kondisi serupa dialami Aminah (43), petani lainnya di Kampung Suminta. Tanaman padinya mulai mati karena kekurangan air, sementara stok beras di rumahnya telah habis.
“Saya baru tahun ini membeli beras. Biasanya enggak pernah beli,” katanya.
Aminah masih berupaya menyelamatkan tanaman padinya dengan mengalirkan air dari Sungai Cikondang menggunakan pompa. Namun, upaya itu menambah biaya produksi. Setiap kali mengairi sawah, ia harus mengeluarkan sekitar Rp50.000 untuk membeli bahan bakar.
“Hari ini dialiri, besoknya air malah enggak ada lagi,” ujarnya.
Kekeringan Meluas
Persoalan air tidak hanya terjadi di Lebak. Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, lebih dari 1.000 hektare lahan pertanian terancam gagal tanam karena kesulitan mendapatkan air. Salah satunya terjadi di Desa Kalibuaya, Kecamatan Telagasari.
“Kami para petani tidak mendapatkan air,” ujar Aca, seorang petani Kalibuaya.
Menurut Aca, hampir 50 hektare sawah di wilayah tersebut sudah mengering. Para petani berharap Perum Jasa Tirta (PJT) II bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) segera turun tangan agar distribusi air kembali normal.
“Kalau tahun ini kami bersama petani lainnya gagal tanam, tentu sangat berat bagi kami. Saya berharap pemerintah bisa segera mencari solusinya agar air kembali mengalir ke sawah dan kami bisa bertani lagi,” katanya.

Data terbaru Kementerian Pertanian menyebutkan luas lahan pertanian yang kering akibat dampak El Nino di seluruh Indonesia mencapai 32.000 hektare. Angka tersebut menjadi sinyal awal adanya potensi gangguan terhadap produksi pangan dalam beberapa bulan ke depan.
Ancaman semakin serius setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino 2026 dapat membuat musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko berkurangnya air irigasi, gagal panen, serta terganggunya musim tanam.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga mulai terjadi di sejumlah wilayah dan berpotensi memperbesar tekanan terhadap sektor pertanian.
Produksi dan Harga Beras
Risiko El Nino tidak berhenti pada sawah yang kekurangan air. Jika produksi turun, pasokan beras dan sejumlah komoditas pangan lainnya berpotensi ikut terganggu.
Ketika pasokan menyusut, harga pangan berpotensi meningkat dan menekan daya beli masyarakat. Kelompok berpendapatan rendah menjadi yang paling rentan karena porsi pengeluaran mereka untuk kebutuhan pangan relatif besar.
Petani juga menghadapi tekanan ganda. Ketika gagal panen atau hasil panen turun, pendapatan mereka menyusut. Pada saat yang sama, biaya untuk mempertahankan lahan, termasuk membeli bahan bakar untuk pompa air, justru meningkat.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa memperkirakan produksi padi dapat turun 3% hingga 5% apabila kekeringan berlangsung kuat.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menunggu dampak El Nino terlihat pada angka produksi atau harga beras. Ketersediaan cadangan pangan, kelancaran distribusi antardaerah, serta intervensi harga perlu disiapkan sebelum gangguan pasokan semakin besar.
Pemerintah Siapkan Mitigasi
Pemerintah menyatakan telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi ancaman kekeringan, mulai dari pompanisasi, rehabilitasi irigasi, pembangunan embung, penyediaan benih tahan kekeringan, optimalisasi rawa hingga cetak sawah.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan luas lahan pertanian yang kering akibat El Nino, sekitar 32.000 hektare, masih tergolong kecil dibandingkan luas lahan pertanian nasional yang mencapai sekitar 11 juta hektare.
No comments:
Post a Comment