Friday, October 30, 2026

Suku Bunga The Fed Ditahan, Mengapa Harga Bitcoin Malah Turun?

 Ilustrasi kripto.

Ilustrasi kripto. (AP Photo/Kin Cheung)

Jakarta, Beritasatu.com - Aset kripto tertekan setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan tersebut belum mampu mengangkat sentimen pasar di tengah ekspektasi suku bunga tinggi yang masih membayangi dan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Mengutip CoinMarketCap, Jumat (30/10/2026) pukul 09.00 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 76.769, turun 4,22% dalam 24 jam terakhir. Ethereum juga mengalami tekanan lebih dalam dengan penurunan 5,44% ke level US$ 2.190.

Dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) pada 27-28 Oktober 2026, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%-4%. Meski suku bunga tidak berubah, keputusan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.

Dua pejabat The Fed bahkan menyampaikan perbedaan pandangan dengan mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sementara itu, bank sentral AS tetap menegaskan komitmennya untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.

ADVERTISEMENT

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan keputusan mempertahankan suku bunga tidak serta-merta menghilangkan ketidakpastian di pasar keuangan. Investor masih perlu mencermati pesan bank sentral mengenai prospek inflasi dan kondisi ekonomi ke depan.

“Keputusan mempertahankan suku bunga bukan berarti ketidakpastian pasar langsung berakhir. Investor masih perlu mencermati bagaimana inflasi berkembang dan bagaimana The Fed merespons data ekonomi berikutnya," ujar Ryan dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).

Ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama membuat minat investor terhadap aset berisiko cenderung tertahan. Pada sisi lain, kenaikan harga minyak turut menambah tekanan terhadap sentimen pasar sehingga membatasi ruang penguatan Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Senada, CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai keputusan The Fed tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, kebijakan itu belum menghilangkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS dan prospek aset berisiko, termasuk kripto.

"Bagi pasar kripto, kondisi ini berarti volatilitas masih berpotensi berlanjut karena investor akan terus menyesuaikan ekspektasi terhadap suku bunga dan likuiditas global,” kata Yudho dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).

Menurut Yudho, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data ekonomi AS menjelang pertemuan FOMC berikutnya pada 8-9 Desember 2026.

"Perkembangan inflasi, aktivitas ekonomi, dan pasar tenaga kerja akan menjadi sejumlah indikator penting untuk menilai apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunga atau mempertahankan level saat ini," sambungnya.

Di tengah ketidakpastian kebijakan moneter dan tekanan inflasi, Ryan menilai pelaku pasar perlu mencermati perkembangan makroekonomi sekaligus menerapkan manajemen risiko dalam menghadapi volatilitas aset digital.

Ia mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada satu pengumuman kebijakan atau pergerakan harga harian dalam mengambil keputusan investasi.

"Memahami konteks pasar, menentukan batas risiko, dan menyesuaikan strategi dengan kondisi masing-masing menjadi bagian penting dalam mengambil keputusan secara lebih terukur," katanya.

Investor juga perlu memahami bahwa setiap aset kripto memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, pergerakan harga dan volatilitas setiap aset tidak selalu seragam.

Di tengah volatilitas pasar kripto, Bittime menilai perdagangan kontrak berjangka (futures) dapat menjadi alternatif bagi trader untuk merespons pergerakan harga, baik saat pasar menguat maupun melemah. Melalui mekanisme ini, trader dapat mengambil posisi long atau short sesuai dengan analisis dan ekspektasi terhadap arah pasar.

Ryan mengatakan fitur perdagangan tersebut dapat memberikan fleksibilitas bagi trader. Namun, penggunaan leverage juga meningkatkan risiko kerugian sehingga perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap mekanisme perdagangan dan pengelolaan risiko.

“Trader perlu memahami potensi kerugian, menetapkan batas risiko, dan menggunakan fitur yang tersedia secara bijak sesuai kemampuan finansial serta toleransi risiko masing-masing,” tutupnya.

No comments:

Post a Comment