Friday, July 4, 2025

JPMorgan Borong 117,42 Juta Saham BRI (BBRI)

 

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Di tengah tekanan pasar dan tren pelemahan saham perbankan nasional, kepercayaan investor global terhadap PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) justru menguat. Hal ini tercermin dari langkah JPMorgan Chase & Co. yang secara signifikan menambah porsi kepemilikannya di saham BBRI sepanjang kuartal II/2025.

Berdasarkan data pasar, JPMorgan membeli 117,42 juta saham BRI sepanjang April hingga Juni 2025, menjadikan total kepemilikan mereka mencapai 1,54 miliar saham. Aksi beli ini mencerminkan pembalikan arah strategi JPMorgan yang sebelumnya menjual lebih dari 500 juta saham BRI pada kuartal I tahun.

Keputusan JPMorgan ini datang bersamaan dengan aksi jual yang mereka lakukan terhadap emiten bank blue chip lainnya yaitu Bank Central Asia (BBCA). Hal ini memperkuat pandangan bahwa BRI kini menjadi fokus utama investor institusi besar, bahkan di tengah koreksi pasar yang masih berlangsung.

Reza Priyambada, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Tbk., menilai langkah JPMorgan menambah saham BBRI di tengah pelemahan pasar bukan hanya sinyal investasi dalam memanfaatkan momentum yang ada, tetapi juga cerminan dari market trust terhadap arah transformasi dan fondasi fundamental bisnis BRI yang kuat.

Dengan strategi jangka panjang yang konsisten dan komitmen terhadap tata kelola yang transparan, BRI dinilai siap menjadi pilar utama pemulihan pasar dan pertumbuhan inklusif nasional di masa mendatang. Dia juga menyorot pernyataan Direktur Utama BRI Hery Gunardi yang menegaskan strategi transformasi yang sedang dilakukan oleh perseroan saat ini.

"Meskipun saat ini saham BBRI sedang mengalami tekanan seiring dengan kondisi pasar, namun secara fundamental masih kokoh, dengan dukungan fondasi bisnisnya yang kuat juga strategi transformasi," ujarnya.

Optimisme pasar terhadap BRI juga didukung oleh konsensus analis. Mengutip Bloomberg, sebanyak 31 analis merekomendasikan beli, 5 tahan, dengan target harga rata-rata 12 bulan ke depan sebesar Rp4.703,61-memberikan potensi imbal hasil sekitar 27,1% dari harga pada awal bulan ini, Selasa (1/7/2025).

Adapun kinerja saham BRI memang masih terkoreksi, dengan harga per 1 Juli 2025 ditutup di level Rp3.700 per lembar. Namun, aksi JPMorgan menunjukkan bahwa investor institusional melihat sesuatu yang lebih mendasar, yaitu fondasi kuat dan strategi transformasi jangka panjang BRI.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa perusahaan tengah mengakselerasi transformasi melalui program BRIVolution Reignite. Transformasi ini mencakup penguatan aspek bisnis, tata kelola, manajemen risiko, hingga digitalisasi operasional, yang semuanya mengarah pada visi BRI menjadi The Most Profitable Bank di Asia Tenggara pada 2030.

"Kami tetap fokus pada penguatan fundamental baik dari sisi pendanaan, penyaluran kredit yang berkualitas, peningkatan kapabilitas digital, penerapan manajemen risiko yang memadai hingga pengembangan SDM," ujar Hery.

https://www.bestprofit-futures.co.id/index.php/en/

https://www.newsmaker.id/index.php/en/

Transformasi ini sejalan dengan koridor pembangunan nasional Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus menunjukkan keseriusan BRI dalam menjalankan mandat sebagai bank milik negara dan rakyat Indonesia.

BRI juga terus menunjukkan komitmen terhadap prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di tengah proses penegakan hukum yang sedang berjalan terkait dugaan pengadaan mesin EDC periode 2020-2024. Langkah ini menjadi bagian dari strategi BRI menjaga kepercayaan pasar, bahwa meskipun tantangan muncul, perusahaan tetap solid dalam mematuhi regulasi dan menjaga kelangsungan bisnis secara berkelanjutan.

Wednesday, July 2, 2025

OJK Sanksi Akseleran Gegara Gagal Bayar, Pengurus Harus Tanggung Jawab

 

Logo Akseleran. (Tangkapan Layar Youtube Akseleran)
Foto: Logo Akseleran. (Tangkapan Layar Youtube Akseleran)

Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memeriksa pengurus dan pemegang saham PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia dan menjatuhkan sanksi administratif kepada perusahaan. 

Hal tersebut dilakukan menyusul kasus gagal bayar perusahaan fintech P2P lending yang dipimpin Ivan Nikolas Tambunan tersebut. 

Dalam hal itu OJK telah meminta pengurus dan pemegang saham, untuk segera menyelesaikan permasalahan Akseleran, khususnya terkait dengan kewajiban kepada para pemberi dana (lender). 

"OJK berkomitmen untuk melakukan pengawasan ketat dalam rangka penyelesaian permasalahan AKII ini, serta melakukan berbagai tindakan lainnya untuk meminimalisir potensi kerugian bagi pengguna/masyarakat dan penegakan kepatuhan terhadap AKII, pengurus maupun pemegang saham," kata Kepala Eksekutif Pengawasan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman, dikutip Rabu (2/7/2025).

Agusman mengatakan bahwa OJK telah melakukan pemeriksaan secara langsung kepada Akseleran dan evaluasi menyeluruh mengenai operasional,infrastruktur, dan akar masalah. Hal ini termasuk kesesuaian model bisnis Akseleran. 

"Untuk selanjutnya menginstruksikan pengurus dan pemegang saham agar segera melakukan langkah-langkah perbaikan," kata Agusman. 

OJK, lanjut Agusman, berupa upaya penegakan kepatuhan (law enforcement) terhadap pihak-pihak Akseleran yang terbukti melakukan pelanggaran, di antaranya penilaian kembali terhadap pihak utama sesuai ketentuan yang berlaku.

Adapun belakangan Akseleran tengah menjadi sorotan karena kasus gagal bayar kepada lender. Mengutip laman resmi perusahaan, tingkat keberhasilan pembayaran dalam 90 hari (TKB90) tercatat sebesar 29,8%. Artinya mayoritas pembiayaan di Akseleran atau 70,2% masuk dalam tingkat wanprestasi dalam 90 hari (TWP90).

Monday, June 30, 2025

Dapat Restu OJK, Bumi Resources Selesaikan Kuasi Reorganisasi

 

PT Bumi Resources Tbk berkomitmen pada kesetaraan gender
Foto: Dok Bumi Resources

Jakarta, CNBC Indonesia - Bumi Resources (BUMI) telah merampungkan kuasi reorganisasi setelah mendapatkan persetujuan para pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS LB) pada 2 Juni 2025 lalu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun telah memberikan restunya, sehingga BUMI dapat menjalankan kuasi.

Dalam keterangannya, manajemen BUMI mengungkapkan hasil dari kuasi ini akan terlihat di laporan keuangan kuartal II-2025 ini. Berdasarkan hasil RUPSLB, sebanyak 300.787.941.463 saham atau 98,51% suara sah yang hadir menyetujui rencana tersebut. Hanya 4.528.236.900 saham atau 1,48% suara sah tidak sepakat.

Sebelumnya, BUMI menyampaikan akan melakukan kuasi reorganisasi menggunakan posisi agio saham yang merupakan selisih lebih antara setoran modal dengan nilai nominal saham. Agio saham merupakan selisih lebih antara setoran modal dengan nilai nominal saham. Singkatnya ini seperti tambahan modal yang disetor. Agio saham inilah yang akan menutup saldo defisit diharapkan semakin memperkuat ekuitas BUMI.


"Agar dapat membayar dividen, Perseroan akan melakukan restrukturisasi terhadap modal melalui Rencana Kuasi Reorganisasi, yaitu dengan cara mengeliminasi akumulasi rugi (defisit) laba ditahan dengan menggunakan saldo agio saham," tulis manajemen BUMI, dikutip Senin (30/6/2025).

Manajemen BUMI juga menegaskan proposal ini telah memenuhi ketentuan Peraturan IX.L.1 terkait dengan Rencana Kuasi Reorganisasi. Sebagai informasi, BUMI menunjukkan nilai defisit telah mencapai 78% dari total modal disetor per 31 Desember 2024. Kemudian pada 2023 defisit mencapai 80% dari total modal dan tahun 2022 mencapai 81% dari modal disetor.

Selain itu, nilai defisit telah mencapai 10,17 kali dari rata rata laba tahun berjalan per 31 Desember 2024. Pada 2023 mencapai 10,47 kali dari rata rata laba tahun berjalan, kemudian pad 2022 setara 10,52 kali dari rata-rata tahun berjalan.

"Tujuan perseroan untuk melakukan rencana kuasi reorganisasi adalah untuk memperbaiki saldo laba perseroan agar perseroan dapat melakukan pembagian dividen tunai," sebut manajemen BUMI.

Monday, June 23, 2025

Harga Emas Dianggap Kemahalan, Kini Perak Jadi Incaran Warga RI!

 

Cikini Gold Center. (CNBC Indonesia/Robertus)
Foto: Cikini Gold Center. (CNBC Indonesia/Robertus)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emas menyandang status safe haven karena mujarab menjaga nilai uang saat terjadi gejolak ekonomi maupun geopolitik. Inilah mengapa saat ini emas menjadi investasi andalan para investor.

Berdasarkan data Refinitv pada Jumat (20/6/2025) harga emas dunia menguat 27,6% sejak awal tahun 2025 menjadi US$3.346,5 troy ons dan sempat menyentuh harga tertinggi sepanjang masa. Kenaikan masif tersebut akibat banyaknya ketidakpastian ekonomi dunia yang terjadi tahun ini. Belum lagi ditambah perang yang tidak selesai antara Rusia-Ukraina dan kawasan timur tengah.

Sementara harga emas Antam saat ini dijual di Rp1.936.000 per gram, sudah naik Rp412.000 dibandingkan harga per 2 Januari 2025 di Rp1.524.000 per gram.Rafli, salah seorang pedagang emas di Gold Center Cikini, mengaku bahwa penjualan emas pada tahun ini lebih ramai dibandingkan tahun lalu.

"Kalau dibanding tahun lalu, tetap ramai tahun ini," katanya kepada CNBC Indonesia pada Jumat (20/6/2025).

Sementara seorang pembeli bernama Arwendy mengatakan bahwa emas menjadi pilihannya untuk investasi. Ia mengatakan saat ini ia membeli emas karena melihat risiko ketidakstabilan ekonomi dalam beberapa tahun mendatang.

"Saya lihat tahun ini dan tahun depan masih ada risiko ekonomi lemah," katanya.

Serupa tapi tak sama, Yosa seorang pembeli emas mengatakan membeli emas sebagai tabungan di masa depan. Selain itu, juga menghindari risiko nilai dolar terhadap rupiah yang semakin tinggi.

"Cicil emas buat masa depan. Mungkin buat pendidikan anak nanti. Sekarang juga dolar mahal jadi lebih baik invest di emas," tuturnya.

Emas memang menjadi primadona saat terjadi chaos di perekonomian, namun perak kini mulai dilirik oleh investor.

Pasalnya harga perak lebih murah ketimbang emas meskipun sama-sama bertajuk logam mulia.

Berdasarkan cerita dari para pedagang di Gold Center Cikini, Jakarta Pusat mulai ada permintaan perak yang tinggi dari masyarakat.

Nendia, salah seorang pedagang logam mulia mengatakan ada penguatan tren pembelian emas di masyarakat yang signifikan.

"Sejak awal tahun ini (pembelian perak), sampai harus inden," ucapnya kepada CNBC Indonesia pada Jumat (20/6/2025).

Nendia mengatakan alasan perak mulai dibeli karena lebih murah dibandingkan emas untuk investasi dan harganya yang mulai naik signifikan.

Sementara di toko lain, penjualan perak juga terjadi peningkatan. Rafli salah sorang pedagang logam mulia juga mengatakan bahwa perak mulai diburu oleh masyarakat.

"Yang kemarin lagi tinggi tuh, banyak emas sekarang pada nyarinya perak," ucapnya.

Arwendy, salah seorang investor logam mulia, menjelaskan alasannya membeli perak karena saat ini harganya 'ketinggalan' dibanding emas.

"Dulu harga perak dan emas itu selisihnya sedikit. Sekarang sudah jauh banget. Saya yakin bahwa harga perak akan menyusul harga emas," katanya kepada CNBC Indonesia pada Jumat (20/6/2025).

Berdasarkan data Refinitiv, harga perak dunia per Jumat (20/6/2025) tercatat di US$35,8 per troy ons. Sepanjang 2025, harga perak pun sudah meningkat 24,3%.

Sementara di Indonesia, sebagai perbandingan nilai perak yang dijual di toko seberat 50 gram dijual dengan harga Rp1,5 juta-an. Sementara harga emas bisa mencapai Rp94 juta-an.

Tuesday, June 17, 2025

Danantara & INA Mau Guyur Rp 13 T ke Chandra Asri (TPIA)

 

Kantor Danantara pusat di Jakarta, Indonesia, 28 Februari 2025. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Foto: Kantor Danantara pusat di Jakarta, Indonesia, 28 Februari 2025. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan Indonesia Investment Authority (INA) menandatangani MoU dengan PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group).

Nota kesepahaman tersebut berisi rencana Danantara dan INA untuk menyuntik modal ke proyek pabrik Chlor Alkali - Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik emiten Prajogo Pangestu tersebut.

Nilai investasi dari kerja sama tersebut ditaksir mencapai US$800 juta atau Rp 13,03 triliun (kurs Rp 16.290). Kemitraan ini bertujuan untuk mencerminkan komitmen bersama para pihak dalam memperkuat ketahanan industri Indonesia, mengurangi ketergantungan impor bahan baku kimia hulu utama, dan memajukan agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi jangka panjang di Tanah Air.

CIO Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan inisiatif tersebut merupakan langkah konkret untuk memperkuat pasokan bahan baku industri penting dalam negeri dan memperluas basis ekspor Indonesia.

Partisipasi Danantara Indonesia mencerminkan komitmen jangka panjang untuk berinvestasi di sektor-sektor dasar yang mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, penciptaan lapangan kerja, dan nilai tambah industri. Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), Pabrik CA-EDC sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.

Sektor kimia mendukung rantai nilai utama-dari manufaktur hingga transisi energi-terutama dalam pemrosesan nikel dan pemurnian alumina. Investasi ini memperkuat ketahanan nasional dengan mengurangi ketergantungan impor pada produk-produk penting seperti soda api dan Etilen Diklorida. Di Danantara Indonesia, kami menyambut mitra global yang memiliki visi yang sama untuk membangun ekosistem industri yang tangguh dan bernilai tinggi dalam ekonomi Asia yang dinamis." kata Pandu, mengutip keterangan resmi, Selasa (17/6/2025).

Produksi Ethylene Dichloride dari pabrik tersebut akan diekspor, sehingga menghasilkan potensi devisa hingga Rp 5 triliun per tahun. Pabrik ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor soda api, dengan proyeksi penghematan hingga Rp 4,9 triliun per tahun.

"Masuknya Danantara Indonesia dan INA menggarisbawahi kepercayaan investor terhadap pertumbuhan industri kimia Indonesia. Melalui kolaborasi ini, kami membangun fondasi yang kokoh untuk mendorong pembangunan industri yang berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Presiden Direktur Chandra Asri Group, Erwin Ciputra.

Monday, June 16, 2025

4 Saham Naik Gila-Gilaan, BEI Langsung Pantau Ketat


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah signifikan pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (2/6/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah signifikan pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (2/6/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau ketat perdagangan empat emiten karena mengalami peningkatan harga saham yang signifikan hingga di luar kebiasaan (Unusual Market Activity/UMA). Ke empat emiten tersebut di antaranya, PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) dalam sepekan naik 42%, PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) dalam seminggu naik 33%, PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) dalam sepekan naik 51%, dan emiten BUMN PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) yang juga menguat 51% dalam seminggu.

Langkah tersebut dilakukan dalam rangka memberikan perlindungan kepada para invstor, khususnya pemegang saham ke-empat emiten tersebut.

"Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang- undangan di bidang pasar modal," tulis manajemen BEI, Senin (16/6).

Informasi terakhir mengenai CBRE adalah informasi tanggal 12 Juni 2025 yang dipublikasikan melalui website PT Bursa Efek Indonesia (Bursa) perihal penjelasan atas volatilitas transaksi.

Selanjutnya, informasi terakhir mengenai ASBI adalah informasi tanggal 10 Juni 2025 yang dipublikasikan melalui website PT Bursa Efek Indonesia (Bursa) perihal penjelasan atas volatilitas transaksi.

Sementara informasi terakhir mengenai JAWA adalah informasi tanggal 10 Juni 2025 yang dipublikasikan melalui website PT Bursa Efek Indonesia (Bursa) perihal rencana penyelenggaraan public expose - tahunan.

Sebagai informasi, sebelumnya Bursa telah mengumumkan Unusual Market Activity (UMA) pada tanggal 26 Agustus 2024 atas perdagangan saham JAWA.

Sedangkan informasi terakhir mengenai KRAS adalah informasi tanggal 10 Juni 2025 yang dipublikasikan melalui website PT Bursa Efek Indonesia (Bursa) perihal laporan bulanan registrasi pemegang efek.

Oleh karena itu para investor diharapkan untuk memperhatikan jawaban emiten atas permintaan konfirmasi Bursa, mencermati kinerja emiten dan keterbukaan informasinya, mengkaji kembali rencana corporate action emiten apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.