Wednesday, December 24, 2025

Harga Emas dan Perak Dunia Kompak Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

 Ilustrasi emas

Ilustrasi emas (AP Photo/Mark Baker)

Jakarta, Beritasatu.com - Pasar logam mulia global tengah berkilau. Harga perak dan emas dunia sama-sama menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Selasa (23/12/2025), didorong oleh kombinasi kuat antara pasokan yang ketat, permintaan industri yang meningkat, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), serta ketegangan geopolitik global.

Dikutip dari Reuters, harga perak spot pada Selasa sempat menyentuh rekor US$ 71,49 per ons troi. Sepanjang tahun ini, harga perak telah melambung 147%, menjadikannya salah satu aset dengan kinerja terbaik pada 2025.

“Pasar perak telah mengalami defisit selama lima tahun, dengan permintaan industri yang terus meningkat. Faktor aset lindung nilai, ekspektasi dolar yang lebih lemah, dan imbal hasil yang lebih rendah juga mendorong harga,” ujarnya.

Grant menambahkan, target harga perak berikutnya berada pada level US$ 75 per ons troi, meski aksi ambil untung menjelang akhir tahun berpotensi memicu koreksi jangka pendek.

Sementara itu, harga emas spot juga mencetak rekor baru pada level US$ 4.497,55 per ons troi. Secara tahunan, harga emas telah melonjak sekitar 70%, didukung oleh ketegangan geopolitik global, pemangkasan suku bunga AS, pembelian agresif oleh bank sentral, serta permintaan investasi yang solid.

Analis dari SP Angel menilai tren jangka panjang emas masih sangat kuat.

“Diversifikasi cadangan devisa bank sentral menjadi pendorong utama harga emas hingga akhir dekade ini. Kami melihat emas berpotensi naik menuju US$ 5.000 per ons troi pada tahun depan,” tulis SP Angel dalam riset terbaru.

Thursday, December 18, 2025

Toba Pulp Diperiksa, BEI Hentikan Perdagangan Sahamnya

 

Jakarta, Beritasatu.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara saham PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) sejak perdagangan sesi II hari ini, Kamis (18/12/2025).

“Bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan Efek PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) di Seluruh Pasar terhitung sejak Sesi II perdagangan efek hingga pengumuman bursa lebih lanjut,” tulis keterbukaan informasi tersebut.

Hal ini dilakukan sehubungan dengan adanya ketidakpastian atas kelangsungan usaha PT Toba Pulp Lestari Tbk, akibat penghentian sementara kegiatan operasional Perseroan oleh Pemerintah sebagaimana disampaikan dalam surat Perseroan Nomor 1209/TPL-P/XII/25 pada 16 Desember 2025 perihal permintaan penjelasan atas PP Akses Hasil Hutan oleh Kemenhut (Tanggapan).

ADVERTISEMENT

“Bursa meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan,” tambah keterangan tersebut.

Sekadar informasi, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan hingga saat ini pemerintah telah menertibkan 11 subjek hukum, dengan seluruh proses hukum yang menyertainya tengah berjalan.

Secara khusus, Raja Juli menyoroti PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) yang belakangan menjadi perhatian publik. Perusahaan tersebut diduga berkontribusi terhadap terjadinya banjir dan longsor di Sumatera Utara sehingga pemerintah menilai perlu dilakukan penanganan secara lebih mendalam.

Menhut menyampaikan Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi langsung agar dilakukan audit dan evaluasi menyeluruh terhadap PT TPL. Audit tersebut mencakup aspek perizinan, kepatuhan hukum, serta dampak lingkungan dari aktivitas perusahaan.

Proses audit dan evaluasi total terhadap PT TPL akan segera dimulai. Raja Juli menyebutkan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki akan ditugaskan secara khusus untuk menangani dan mendalami proses tersebut agar berjalan serius, objektif, dan komprehensif.

Friday, December 12, 2025

Dibuka Menguat, IHSG Jumat 12 Desember Turun Tipis 0,04 Persen

 IHSG Hari Ini.

IHSG Hari Ini. (Antara/Antara)

Jakarta, Beritasatu.com - Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak melemah tipis pada pembukaan perdagangan Jumat (12/12/2025) pagi. IHSG tercatat turun 0,04% ke level 8.616,67, setelah dibuka pada posisi 8.651,77.

Sepanjang sesi awal, indeks bergerak di rentang 8.585,42-8.656,15 dengan frekuensi transaksi mencapai 584.873 kali dan total volume perdagangan 11,86 miliar saham.

Nilai transaksi hingga pukul 09.23 WIB tercatat Rp 5,53 triliun, sementara kapitalisasi pasar berada di level Rp 15.821,48 triliun.

ADVERTISEMENT

Sebanyak 247 saham menguat, 307 melemah, dan 144 stagnan, mencerminkan tekanan jual yang masih dominan.

Pergerakan indeks sektoral pada perdagangan hari ini menunjukkan kinerja yang beragam, dengan beberapa sektor menjadi penopang utama IHSG.

Sektor energi tercatat menguat 1,05% ke level 4.421,38, disusul sektor bahan baku yang mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 1,72% ke 1.992,55. Penguatan juga terlihat pada sektor barang non-siklikal yang naik 0,53%, sektor kesehatan yang tumbuh tipis 0,11%, dan sektor transportasi naik tipis 0,09%.

Sebaliknya, sejumlah sektor justru memberikan tekanan terhadap pergerakan indeks. Sektor barang siklikal terpantau turun 0,59%, sementara sektor keuangan melemah 0,39%. Koreksi juga terjadi pada sektor teknologi yang turun 0,41%, sehingga turut membatasi penguatan IHSG lebih lanjut.

Top Losers

Beberapa emiten mencatat pelemahan terdalam hingga pukul 09.22 WIB, dipimpin oleh:

  • PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) melemah 14,66% ke Rp 990
  • PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) turun 14,53% ke Rp 147
  • PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) merosot 14,23% ke Rp 10.250
  • PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) turun 13,18% ke Rp 1.285
  • PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) melemah 12,04% ke Rp 950


Sementara itu, sejumlah saham mencatat penguatan signifikan:

  • PT Citatah Tbk (CTTH) melonjak 32,10% ke Rp 214
  • PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) naik 25,00% ke Rp 550
  • PT Pinnacle Persada Investama (XPLQ) menguat 24,60% ke Rp 785
  • PT Danareksa Investment Management (XDIF) naik 24,21% ke Rp 590
  • PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) naik 21,51% ke Rp 1.525

Friday, November 21, 2025

BI Catat Uang Beredar Tembus Rp 9.783,1 triliun

 Nilai tukar Rupiah hari ini

Nilai tukar Rupiah hari ini (Antara/Antara)

Jakarta, Beritasatu.com – Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Oktober 2025 tumbuh positif, yakni sebesar 7,7% secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp 9.783,1 triliun.

“Posisi M2 pada Oktober 2025 tercatat sebesar Rp 9.783,1 triliun atau tumbuh sebesar 7,7% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 8,0% (yoy),” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (21/11/2025).

Lebih lanjut, perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 11,0% (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,5% (yoy).

Perkembangan M2 pada Oktober 2025 dipengaruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).

ADVERTISEMENT

Aktiva luar negeri bersih pada Oktober 2025 tumbuh sebesar 10,4% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada September 2025 sebesar 12,6% (yoy).

Sementara penyaluran kredit pada Oktober 2025 tumbuh 6,9% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 7,2% (yoy).

Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repo.

Kredit yang masuk dalam perhitungan juga tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, serta kredit yang disalurkan kepada Pemerintah Pusat dan bukan penduduk.

Selanjutnya, tagihan bersih kepada Pempus tercatat tumbuh sebesar 5,4% (yoy), setelah pada September 2025 tumbuh sebesar 6,5% (yoy).

Di sisi lain, bank sentral juga mencatat uang primer (M0) adjusted pada Oktober 2025 yang tumbuh sebesar 14,4% (yoy), melanjutkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 18,6% (yoy), sehingga tercatat sebesar Rp 2.117,6 triliun.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 27,1% (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 13,4% (yoy).

Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).