Wednesday, April 3, 2024

5 Saham Bank Raksasa Ini Diskon Gede-Gedean, Saatnya Serok?

 Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham perbankan raksasa secara mayoritas kembali lesu pada perdagangan sesi I Rabu (3/4/2024), di mana investor masih cenderung melakukan aksi profit taking di saham bank raksasa setelah periode pembagian dividen selesai.

Per pukul 09:38 WIB, dari lima saham bank raksasa, terpantau tiga saham sudah ambles lebih dari 1%, sedangkan satu saham terkoreksi kurang dari 1% dan satu saham lainnya cenderung stagnan.

Adapun saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling parah koreksinya pada sesi I hari ini, yakni ambles 2,02% ke posisi Rp 9.700/unit. Sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) cenderung stagnan di harga Rp 6.900/unit.


Berikut kinerja saham bank raksasa pada sesi I hari ini, dalam sepekan terakhir, sejak perdagangan 15 Maret lalu, dan sejak awal tahun ini.

Jika dilihat dari kinerja saham bank raksasa di atas, sejak perdagangan 15 Maret lalu, secara mayoritas sudah ambles 6% lebih. Hanya saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang masih mencatatkan penguatan yakni sebesar 0,76%.


Adapun dari awal tahun ini, saham bank raksasa secara mayoritas masih membukukan penguatan yang signifikan, kecuali saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang sudah terkoreksi 1,32%.

Beberapa pengamat menilai saham perbankan yang sudah mulai lesu terjadi karena pesta sentimen dividen yang telah usai. Hal ini diungkap oleh Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta.

"Bisa jadi euforia pembagian dividen mulai mereda," katanya kepada CNBCIndonesia, Senin (1/4/2024).

Terkait dengan pemilu, sejauh ini berjalan dengan aman dan damai. Meski dalam perkembangan terdapat hak angket di DPR dan sengketa melalui Mahkamah Konstitusi (MK), tetapi dia menilai stabilitas politik dan keamanan relatif baik.

Terpisah, praktisi pasar modal Hans Kwee mengatakan bahwa kemungkinan besar saham bank jumbo mengalami koreksi, mengikuti tren IHSG yang masih cenderung lesu karena dampak sengketa pemilu.

"Dari global pasar cukup posiitf. Data PCE AS, data manufaktur China naik, harusnya IHSG rebound. Kalau tidak naik kemungkinan besar karena sengketa pemilu," katanya.

Akan tetapi dia menilai dampak sengketa pemilu terhadap pasar saham biasanya hanya jangka pendek.

CNBC Indonesia Research

No comments:

Post a Comment