Wednesday, October 26, 2022

Indeks Bisnis BRI: UMKM Tangguh, Produktivitas Melesat

 Ilustrasi gedung BRI.

 PT BESTPROFIT FUTURES JAMBI - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dalam Indeks Bisnis (IB) UMKM kuartal II 2022 melihat adanya peningkatan geliat bisnis UMKM. Aktivitas bisnis UMKM cenderung meningkat seiring peningkatan mobilitas masyarakat pada kuartal II 2022.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari menjelaskan faktor yang mendorong pemulihan UMKM yakni pertumbuhan ekonomi sehingga mendongkrak daya beli masyarakat. Kedua, situasi pandemi yang terkendali. Ketiga, peningkatan permintaan masyarakat saat momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni puasa dan Idulfitri yang pada April-Mei 2022. PT BESTPROFIT

BEST PROFIT


Hasil Survei Aktivitas Bisnis UMKM menunjukan kenaikan indeks bisnis UMKM dari 104,6 pada kuartal I 2022 menjadi 109,4 pada kuartal II 2022. Sebagai informasi, indeks bisnis di atas 100 menunjukan kondisi ekspansi UMKM berada di level optimistis.

“Indeks bisnis yang terus meningkat di tahun ini menunjukan kondisi UMKM dapat terus melakukan ekspansi di tengah tren kenaikan inflasi dan berbagai tantangan dinamika ekonomi global lainnya,” kata dia dalam keterangannya Rabu (26/10/2022). BESTPROFIT

PT BESTPROFIT FUTURES

BPF­

Sebagian besar komponen penyusun indeks bisnis UMKM BRI pada kuartal II 2022 menunjukkan kenaikan. Komponen rata-rata harga jual mencatat indeks tertinggi dan berada di atas ambang batas 100, sejalan kenaikan permintaan dan kenaikan harga bahan baku.

Akibatnya, survei BRI ini menangkap pelaku UMKM terpaksa harus menaikkan harga jual produknya, meski nilai kenaikan tidak sebesar pada kuartal I 2022. Kendati demikian, produktivitas UMKM yang ditinjau dari volume produksi, masih tetap meningkat, sejalan peningkatan permintaan selama HBKN, libur panjang, serta momentum panen raya tanaman bahan makanan di beberapa sentra produksi.

Dengan demikian, nilai penjualan pelaku UMKM terdampak positif dengan mencatatkan tren kenaikan signifikan. Hal ini membuat UMKM meningkatkan persediaan bahan baku dan barang jadi untuk mengantisipasi kenaikan volume produksi dan penjualan. Investasi juga meningkat sejalan dengan prospek perekonomian yang diperkirakan akan semakin pulih kedepan.

Kendati begitu, kelangkaan ini sebetulnya telah membaik dibandingkan kuartal sebelumnya. Mengambil contoh, sebanyak 97,1% UMKM yang menggunakan minyak goreng sebagai bahan baku menyatakan mengalami kenaikan harga yang tinggi dan 73,7% menyatakan mengalami kelangkaan.


Pada survei kuartal II 2022 persentase responden yang menyatakan mengalami kenaikan harga yang tinggi menurun signifikan menjadi 67,5%, begitu juga yang menyatakan mengalami kelangkaan menurun drastis menjadi 38,5%. Gambaran ini hampir sama pada komoditas lainnya, seperti tepung terigu, kedelai, jagung, dan bahan bakar gas yaitu kelangkaan berkurang dan tekanan kenaikan harga menurun.

Dilihat dari aspek sektoral, sektor konstruksi memiliki indeks tertinggi dan meningkat dari kuartal sebelumnya. Hal ini terjadi lantaran masyarakat cenderung melakukan kegiatan renovasi atau pembangunan rumah untuk menyambut HBKN sekaligus mengantisipasi musim penghujan.

Di sisi lain, hanya sektor pertanian yang diketahui mengalami penurunan indeks bisnis pada kuartal II 2022. sektor pertanian turun dari 104,2 (Q1-2022) menjadi 98,7 (Q2-2022), akibat menurunnya harga jual hasil pertanian seperti gabah dan hasil perkebunan seperti kelapa sawit, kopi, cokelat sehingga menggerus nilai penjualan. Kondisi ini diperburuk oleh kenaikan harga pupuk dan obat-obatan dan disertai pula dengan kelangkaan di beberapa daerah. Jakarta, Beritasatu.com

No comments:

Post a Comment