Thursday, October 13, 2022

Resesi Bakal Panjang, Harga Minyak Mentah 3 Hari Terbenam!

 FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo Foto: Ilustrasi: Labirin pipa dan katup minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve di Freeport, Texas, AS 9 Juni 2016. REUTERS / Richard Carson / File Foto

PT BESTPROFIT FUTURES JAMBI  - Isu resesi terus membayangi minyak mentah, harganya pun merosot dalam 3 hari beruntun pada perdagangan Rabu (12/10/2022). Sebelum resesi terjadi, permintaan minyak mentah juga diperkirakan turun di tahun ini.

Melansir data Refinitiv, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) jeblok 2,3% ke US$ 87,27/barel dan dalam 3 hari merosot 5,8%. Sementara minyak mentah jenis Brent anjlok 1,95% ke 92,45/barel, dan dalam 3 hari merosot 5,6%. PT BESTPROFIT



Tidak sekedar resesi, dunia kini berisiko menghadapi risiko resesi yang panjang. Sebabnya, bank sentral AS (The Fed) berencana menahan suku bunga tinggi dalam waktu yang lama.

Hal tersebut terindikasi dari rilis notula rapat kebijakan moneter pada Kamis (13/10/2022) dini hari tadi.

Dalam notula tersebut tersurat para anggota The Fed terkejut dengan laju kenaikan harga yang cepat, sehingga menginginkan suku bunga akan tetap tinggi sampai inflasi menurun.

"Para partisipan menilai Komite perlu bergerak (menaikkan suku bunga), dan menahannya, kebijakan moneter yang lebih restriktif untuk mencapai mandat tenaga kerja maksimum dan stabilitas harga," tulis notula tersebut sebagaimana dilansir CNBC International. BEST PROFIT

BESTPROFIT


Dengan suku bunga ditahan di level tinggi, resesi bisa semakin panjang, hal ini membuat outlook minyak mentah menjadi suram.

Ekonom Nouriel Roubini, atau yang dikenal dengan Dr. Doom, ketika sukses memprediksi krisis finansial 2008, kini memproyeksikan resesi akan menghantam Amerika Serikat di akhir 2022 sebelum menyebar secara global tahun depan.

"Ini tidak akan menjadi resesi yang singkat dan dangkal, ini akan menjadi resesi yang parah, panjang dan buruk," kata Roubini, sebagaimana dilansir Fortune, Rabu (21/9/2022). PT BESTPROFIT FUTURES

BPF­

Ia melihat kondisi ekonomi saat ini mirip dengan 2007/2008, dilihat dari tingginya utang negara dan korporasi. Hal ini bisa memicu krisisi yang parah.

Selain itu OPEC dan Departemen Energi AS memangkas outlook permintaan minyak mentah di tahun ini. OPEC menilai, permintaan minyak mentah akan turun antara 460.000 hingga 2,64 juta barel per hari. Jakarta, CNBC Indonesia

TIM RISET CNBC INDONESIA 

No comments:

Post a Comment